Hakekat Pencela Sahabat

Al-Imam Abu Zur’ah rahimahullah mengatakan,

“Apabila engkau melihat seseorang merendahkan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa dia seorang zindiq (munafik). Yang mereka inginkan adalah men-jarh (mencacat) para saksi kita (yakni para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi penyampai syariat Islam, -red.) sehingga gugurlah al-Kitab dan as-Sunnah. Justru mereka lebih berhak di-jarh. Mereka adalah orang-orang zindiq.”

 

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata,

Aku bertanya kepada ayahku, “Siapakah yang disebut Rafidhi (penganut agama Syiah Rafidhah)?”

Ahmad bin Hanbal rahimahullah menjawab, “Orang yang mencerca dan mencela Abu Bakr dan Umar.”

Aku bertanya lagi, “Kalau mencela salah seorang sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Ahmad bin Hanbal rahimahullah menjawab, “Aku tidak memandang dia di atas agama Islam.”

(Lammud Durril Mantsur, Jamal bin Furaihan al-Haritsi, hlm. 97—98)

Golongan yang Menyimpang dalam Iman Kepada Kitab

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

Terjatuhlah manusia dalam kesesatan. Sungguh, tidak sedikit manusia mendustakan firman Allah ‘azza wa jalla secara keseluruhan atau parsial, bukan hanya dari kalangan non-Islam, kelompok-kelompok yang menisbatkan dirinya kepada Islam pun banyak di antara mereka terjerumus pada penyimpangan-penyimpangan dalam masalah iman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla.

Ahlul Kitab, Yahudi, dan Nasrani
Mereka adalah kaum yang mendustakan kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla yang ada di tengah mereka. Taurat dan Injil mereka ubah, mereka tambahi, mereka kurangi dan mereka sembunyikan al-haq atau mereka campur antara yang haq dan yang batil.
Demikian perlakuan ahlul kitab terhadap Taurat dan Injil sebagaimana telah kita baca ayat-ayat al-Qur’an yang mengabarkan sifat mereka yang sangat tercela, menodai kehormatan Taurat dan Injil dengan mengubah keduanya.
Adapun terhadap al-Qur’an, mereka mendustakannya walaupun sesungguhnya mereka dalam keadaan yakin akan kebenaran a-Qur’an.
Dahulu, sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ahlu kitab selalu menyebut-nyebut kedatangan rasul yang terakhir, bahkan mereka mengatakan itu di hadapan Aus dan Khazraj. Namun, setelah datang kepada mereka al-Qur’an, mereka kafir sebagaimana Allah ‘azza wa jalla kabarkan dalam firman-Nya,
“Dan setelah datang kepada mereka al-Qur’an dari Allah ‘azza wa jalla yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yangingkar itu.” (al-Baqarah: 89)

Tarekat Tijaniyyah
Tijaniyyah adalah salah satu tarekat sufi yang dinisbatkan kepada pendirinya; Ahmad al-Tijani yang dilahirkan tahun 1150 H (1737 M) di salah satu perkampungan di Aljazair. Tarekat Tijaniyyah sebagai salah satu dari ratusan tarekat sufi sesungguhnya memiliki penyimpangan baik dalam masalah, akidah, ibadah, maupun muamalah. Di antaranya penyimpangan dalam keyakinan mereka terhadap al-Qur’an.
Tijaniyah meyakini bahwa di antara zikir-zikir atau wirid-wirid mereka lebih utama dari al-Qur’an. Tijaniyah memiliki shalawat khusus untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka sebut sebagai shalawat Fatih.
Shalawat Fatih cukup populer pula diamalkan di sebagian kalangan di tanah air. Lafadz shalawat ini adalah sbb:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا اُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِالْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى اِلى صِرَاطِك الْمُسْتَقِيْم وَعَلى الِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.
Ya Allah, limpahkanlah rahmat, keselamatan, dan keberkahan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang membuka segala sesuatu yang tertutup, yang menutup sesuatu yang terdahulu, yang menolong kebenaran dengan kebenaran, yang memberikan petunjuk pada jalan-Mu yang lurus. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan rahmat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya dengan kekuasaan dan ukuran Allah Yang Mahaagung
Sang pendiri, Ahmad at-Tijani berkata, “Barang siapa membaca shalawat Fatih sekali lebih afdal daripada mengkhatamkan al-Qur’an 6.000 kali.”
Dengan nama Allah, adakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan shalawat ini? Dari mana kalian mengetahui shalawat bid’ah ini memiliki keutamaan seperti seorang khatam al-Qur’an 6.000 kali? Ucapan at-Tijani tidak lain adalah kedustaan, mensyariatkan apa yang tidak rasul syariatkan.
Coba bandingkan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pernah mengabarkan bahwa surat al-Ikhlas setara dengan sepertiga al-Qur’an. Beliau bersabda,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
“Demi Dzat Yang Jiwaku di Tangan-Nya, sungguh surat al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga al-Qur’an.” (HR. al-Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu no. 5014)
Surat al-Ikhlas adalah kalam Allah ‘azza wa jalla, dan dalam hadits di atas beliau bersumpah bahwa al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga al-Qur’an.
Bandingkan sabda Rasulullah dengan ucapan mereka bahwa shalawat Fatih senilai dengan 6.000 khatam al-Qur’an. Luar biasa! Betapa “hebat” sang pendiri tarekat! Dengan mudah membuat kalimat-kalimat yang lebih besar pahalanya dibanding surat al-Ikhlas yang merupakan kalam Allah ‘azza wa jalla, yang nabi saja tidak mengucapkannya dan tidak diamalkan para sahabat nabi.
Betapa beraninya Ahmad at-Tijani berbicara perkara gaib, berbicara tentang pahala di sisi Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu dan sandaran.
Demikianlah ketika seorang sudah berkeyakinan adanya bid’ah hasanah, setiap orang bebas membuat dan berkreasi dalam syariat ini semaunya yang penting baik menurut akalnya, otaknya, kelompoknya, akibatnya: Islam akan berubah! Allahul musta’an.

Kaum Sufi Ekstrem
Orang-orang sufi ekstrem adalah model kesekian dari manusia-manusia yang mengingkari kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla. Sisi penyimpangan mereka, mereka mengaku memiliki ilmu yang dikatakan dengan “ilmu Laduni”.
Ilmu Laduni di kalangan sufi adalah sumber syariat. Ilmu Laduni menurut mereka adalah wahyu yang mereka dapatkan langsung dari Allah ‘azza wa jalla. Dengan dalih ilmu laduni itulah kaum sufi dengan seenaknya membuat syariat, dan mereka sandarkan kepada Allah ‘azza wa jalla, yakni mereka menerima langsung dari Allah ‘azza wa jalla.
Sungguh para sahabat, bersepakat bahwa wahyu Allah ‘azza wa jalla telah terputus dengan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, wahyu terputus dan Islam telah sempurna.
Kaum sufi ekstrem tidak menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai satu-satunya sumber pengambilan ilmu, sumber akidah. Mereka juga menjadikan ilmu Laduni sebagai sumber syariat, demikian pula mimpi-mimpi. Bahkan, menurut mereka seorang bisa bebas dari ikatan syariat, tidak lagi terikat dengan al-Kitab dan as-Sunnah.

Syiah Rafidhah
Penyimpangan Syiah Rafidhah dari jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian banyak, sehingga siapa saja yang mau melihat penyimpangan Syiah Rafidhah dengan timbangan al-Qur’an dan as-Sunnah akan tampak dengan terang bahwa mereka bukanlah bagian dari kaum muslimin.
Ya, Syiah Rafidhah pada hakikatnya adalah agama tersendiri yang dibangun di atas kekufuran kepada Allah ‘azza wa jalla. Mereka telah menghancurkan segala sendi-sendi Islam termasuk dalam masalah iman kepada kitab, mereka telah menyimpang dari jalan kaum muslimin.
Di antara penyimpangan tersebut: Mereka meyakini bahwa al-Qur’an yang berada di tengah kaum muslimin, yang dibaca dan dihafalkan selama ini, bukan al-Qur’an yang Allah ‘azza wa jalla turunkan, tidak sesuai dengan aslinya dan telah diubah oleh para sahabat.
Al-Qur’an yang sesungguhnya akan dikeluarkan nanti di akhir zaman, dan saat ini dibawa Imam Mahdi mereka yang bersembunyi di dalam Sirdab Samura’.
Dengan lancangnya mereka meyakini bahwa para sahabat telah mengubah al-Qur’an. Al-Qur’an yang ada sekarang ini bukan lagi wahyu Allah ‘azza wa jalla yang diturunkan, namun ayat-ayat yang telah didustakan, ditambah dan dikurangi. Di sisi mereka al-Qur’an tidak bisa dijadikan sebagai hujah dan pegangan, al-Qur’an bukan lagi kitab hidayah, mereka pun dengan seenaknya mempermainkan al-Qur’an.
Menurut mereka, al-Qur’an yang benar adalah al-Qur’an Fathimah yang disimpan oleh Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, padahal sahabat Ali sendiri tidak pernah mengatakan beliau menyimpannya. Keyakinan ini bukan sekadar tuduhan kepada Syiah Rafidhah. Namun keyakinan ini tertulis jelas dalam kitab-kitab induk syiah Rafidhah.
Dalam kitab al-Kafi, Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini meriwayatkan bahwasanya Abu Abdullah Ja’far ash-Shadiq berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad (ada) 17.000 ayat.” (al-Kafi [2/634])
Dari Abu Abdillah ia berkata, “… Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihassalam. Mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata, ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf tiga kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian…’.” ( al-Kafi [1/239—240] dinukil dari kitab asy-Syi’ah wal-Qur’an, hlm. 31—32, karya Ihsan Ilahi Zhahir)
Bahkan orang yang mereka anggap sebagai ahli hadits, Husain bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath-Thabrisi menyempurnakan kekafiran kaum syiah Rafidhah dengan menulis sebuah kitab berjudul Fashlul Khithab fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab. Kitab yang dikarangnya pada tahun 1292 H mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang maksum (menurut mereka), yang menetapkan bahwa al-Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.
Betapa kafir dan dungunya mereka, sungguh seorang yang masih memiliki sedikit akal, akan menyimpulkan bahwa apa yang mereka ucapkan ini sesungguhnya justru celaan dan tikaman kepada Ali bin Abi Thalib, ahlul bait, dan bahkan celaan kepada Allah ‘azza wa jalla.
Celaan kepada Ali karena secara langsung atau tidak langsung mereka telah menuduh Ali telah berkhianat kepada umat dengan menyembunyikan al-Qur’an yang benar.
Wahai Syiah Rafidhah, bukankah Ali bin Abi Thalib ketika itu menjadi khalifah? Kenapa Ali takut kepada manusia untuk menampakkan al-haq? Demikian pula al-Hasan, al-Husain tidak menampakkan al-Qur’an yang benar menurut versi kalian?
Kalian juga telah mencela Allah ‘azza wa jalla karena makna ucapan kalian bahwa al- Qur’an yang ada sekarang bukan wahyu yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seakan-akan kalian berkata bahwa Allah berdusta, tidak memenuhi janjinya untuk menjaga al- Qur’an, lemah tidak bisa menghadapi manusia yang mengubah-ubah al-Qur’an, dan membiarkan manusia selama 1.435 tahun dalam kesesatan tidak mengerti kitab mereka. Wahai Syiah Rafidhah, tidakkah kalian berakal?
Wahai Rafidhah, di mana al-Qur’an Fathimah yang kalian sangkakan itu? Empat belas abad berlalu disembunyikan oleh ahlul bait? Bukankah mereka maksum (terbebas dari dosa) menurut kalian? Apakah menyembunyikan al-Qur’an bukan kesalahan mereka yang sangat besar? Menyembunyikan al-Qur’an artinya membiarkan manusia dalam kesesatan, tidak punya pegangan hidup.
Mana Imam Mahdi kalian yang bersembunyi di Sirdab, apakah ia tidak berani keluar untuk segera menyampaikan al-Qur’an Fathimah itu setelah berabadabad manusia dalam ketidaktahuan terhadap kitab Rabb mereka? Bukankah sekarang kalian sudah punya Negara Iran dengan nuklirnya yang bisa melindungi al-Mahdi kalian? Sungguh, ini celaan kalian kepada sahabat Ali bin Abi Thalib, al-Hasan, al-Husain, serta ahlul bait! Bahkan celaan kepada Allah ‘azza wa jalla.
Mereka, orang-orang Syiah juga tersesat dalam metode penafsiran al-Qur’an Mereka tafsirkan seenak mereka dengan penafsiran Bathiniyyah.
Demikian beberapa kelompok yang tersesat dalam masalah iman kepada kitab. Semoga Allah ‘azza wa jalla tampakkan kepada kita yang benar sebagai perkara yang benar dan Allah ‘azza wa jalla beri kita kemampuan untuk mengikutinya, dan semoga Allah ‘azza wa jalla tampakkan kepada kita yang batil sebagai perkara yang batil dan Allah ‘azza wa jalla mudahkan kita meninggalkannya. Amin.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dusta Syiah Dalam Riwayat

Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Ibnu Rifa’i

لاَ تَكْذِبُوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّار

“Jangan berdusta atas namaku. Sungguh, siapa saja berdusta atas namaku, silakan masuk dalam neraka!”
Ucapan di atas adalah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari (no. 106), Muslim di dalam Muqaddimah Shahih-nya (Bab “Taghlizhul Kadzib” no. 1), at-Tirmidzi (no. 2660), dan Ibnu Majah (no. 31).
 151528_bola-api-dari-ledakan-matahari_663_382
Tentang Hadits
Madar (sumber) inti hadits di atas terletak pada perawi bernama Manshur bin al-Mu’tamir, dari Rib’i bin Hirasy, dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Tentang Ali radhiallahu ‘anhu, lembaran kertas dalam tulisan ini tidak akan cukup untuk berkisah tentang kelebihan, keistimewaan, dan keutamaan beliau. Perlu karya tersendiri untuk bercerita tentang figur Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ulama, jazahumullahu khairan.
Murid Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah Rib’i bin Hirasy. Siapakah beliau? Ahli hadits dari Kufah ini tercatat sebagai seorang tabi’in mulia yang tidak pernah berdusta walau sekali dalam hidupnya. Beliau pernah bersumpah untuk tidak tertawa sebelum mengetahui, di surga atau neraka tempatnya kelak?
Salah seorang yang memandikan jenazah Rib’i mengatakan, “Rib’i terus terlihat dalam senyum di atas ranjangnya, sampai kami selesai memandikannya.”
Beliau wafat pada 101 H di masa kekuasaan al-Hajjaj bin Yusuf. Sebagai madar hadits, Manshur bin al-Mu’tamir memang termasuk perawi di dalam kutubus sittah (kitab hadits yang enam). Banyak ulama menyebut beliau sebagai atsbatu ahli Kufah, perawi paling kuat di kota Kufah. Karena sering menangis, beliau mengalami gangguan penglihatan. Manshur wafat pada 132 H, semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati beliau.
Dalam kalangan Syiah tidak dikenal istilah yang cukup populer di bidang ilmu hadits. Tidak ada pembahasan hadits sahih, hasan, ataupun dha’if, menurut keyakinan mereka. Jika pun ditemukan dalam beberapa kitab rujukan mereka, hal itu dilakukan demi prinsip taqiyyah (dusta demi keyakinan).

Makna Hadits
Sebagian ulama pensyarah hadits (Syarah Shahih Muslim karya an-Nawawi) menyatakan bahwa riwayat di atas termasuk dalam kategori mutawatir. Artinya, pada setiap tingkatan sanad hadits, ada banyak perawi yang meriwayatkan hadits ini.
Abu Bakr al-Bazzar menyebutkan ada sekitar 40 orang sahabat yang meriwayatkan hadits ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, ada yang mengatakan 62 sahabat, termasuk sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga.
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir hadits (النَّار فَلْيَلِجِ) diterangkan oleh ulama menyimpan dua makna.
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas dimaknai, “Semoga kelak ia masuk ke dalam neraka.”
  • Khabar bi lafdzi amr (kalimat berita dalam konteks perintah).
Dengan demikian, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas berarti, “Kelak ia akan masuk neraka, maka bersiap-siaplah.”
Makna mana pun dari kedua kemungkinan tersebut, seharusnya hal tersebut menjadi sebuah rambu hidup untuk tidak bermain-main ketika berbicara atas nama Islam, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Berdusta adalah menyampaikan sesuatu yang bertolak belakang dengan fakta. Hal ini bisa terjadi secara disengaja maupun tidak, lupa atau karena tidak tahu. Akan tetapi, di dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan ancaman siksa bagi mereka yang secara sengaja melakukan tindak dusta atas nama beliau. Apa pun alasan dan tujuannya!
Apakah pelakunya dapat dikafirkan?
Al-Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa dusta termasuk perbuatan dosa yang keji dan kesalahan yang membinasakan. Akan tetapi, dikafirkan atau tidak, menurut pendapat yang masyhur dari mayoritas ulama di berbagai mazhab, pelakunya tidak dikafirkan, kecuali jika ia meyakini hal tersebut halal dilakukan.
Bagaimana pun, ancaman yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas harusnya menjadi garis pengingat untuk kita agar berhati-hati jika berbicara atas nama agama. Tanpa ilmu syar’i sebagai landasan dan sikap ilmiah dalam bertindak, seorang muslim dilarang berucap atau berpendapat lantas mengatasnamakannya sebagai ajaran Islam.
Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam al-Qur’an, Katakanlah, “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu, dan (mengharamkan) mengadaadakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui.” (al-A’raf: 33)

Putar Balik Fakta Ala Syiah
Kalangan Syiah dengan berbagai sektenya, sangat tepat untuk dijadikan contoh nyata dalam pembahasan kita. Sengaja kami memilih riwayat hadits dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu—bukan dari sahabat lain—, karena pengakuan kalangan Syiah yang menghormati dan mengagungkan beliau.
Adapun kenyataannya? Silakan Anda menelaah tulisan ringkas ini.
Dalam kalangan Syiah tidak dikenal istilah yang cukup populer di bidang ilmu hadits. Tidak ada pembahasan hadits sahih, hasan, ataupun dha’if, menurut keyakinan mereka. Jika pun ditemukan dalam beberapa kitab rujukan mereka, hal itu dilakukan demi prinsip taqiyyah (dusta demi keyakinan).
Hal ini dinyatakan sendiri oleh salah satu tokoh besar mereka yang bernama al-Faidh al-Kasyani. Selain itu, al-Faidh menyebut pembagian hadits menjadi sahih, hasan, dan dhaif, hanyalah mustahdats. Artinya, sesuatu yang dibuatbuat oleh Ahlus Sunnah. Pernyataannya ini dimuat di dalam kitab al-Wafi pada mukadimah keduanya (1/11).
Bukankah hal ini menyelisihi prinsip utama kaum muslimin? Bukankah hal ini akan membuka lebar pintu berbicara dan bersikap tanpa dasar ilmiah? Bukankah hal ini secara tidak langsung telah membuktikan bahwa kalangan Syiah tidak peduli dengan sahih atau tidaknya riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Buku-buku referensi utama mereka penuh dengan riwayat palsu dan dusta. Bagaimana tidak, para perawi andalan kaum Syiah adalah kumpulan para pendusta. Sebut saja Zurarah bin A’yan, Jabir al-Ju’fi, Abu Bashir al-Laits, Barid al-‘Ijli, Humran bin A’yan, dan yang semisalnya.
Zurarah bin A’yan disebut ulama sebagai tokoh ekstrem kaum Syiah, terutama sebagai tokoh pendiri sekte Zurariyah (al-A’lam karya az-Zirikli 3/43).
Akan tetapi, apa pendapat Abu Abdillah, seorang ulama yang ditokohkan oleh kaum Syiah tentangnya? Kata Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq (Rijalul Kusysyi hlm. 149—151), “Zurarah lebih jahat dibandingkan dengan kaum Yahudi dan Nasrani!”
Seorang perawi yang telah dicacat oleh tokohnya sendiri, mengapa kemudian dijadikan sebagai salah satu sumber utama riwayat kaum Syiah?
Tidak perlu kaget atau heran! Kaum Syiah pada dasarnya memang tidak mengakui disiplin ilmu hadits, apalagi ilmu al-jarh wat ta’dil!
Sekalipun ditemukan sejenis ilmu al-jarh wat ta’dil di kalangan Syiah, pasti diiringi oleh kontradiksi, pertentangan, dan pendapat yang saling berlawanan.
Buktinya?
Adalah pengakuan dari seorang tokoh mereka yang dikenal dengan sebutan al-Kasyani. Dalam mukadimah kedua dari kitab al-Wafi (1/11/12), ia mengatakan, “Di dalam al-jarh wat ta’dil serta syarat yang berlaku, terdapat kontradiksi, pertentangan, dan pendapat yang saling berlawanan. Hampir-hampir hal ini membuat hati tidak tenang, sebagaimana hal ini tidak tersembunyi bagi orang yang mengetahuinya.”

Sikap Syiah Terhadap Referensi Islam
Kejahatan kaum Syiah ternyata tidak cukup sampai di situ. Selain membuat dan bersandar pada riwayat palsu dan dusta, mereka tidak menerima kitab hadits yang telah disepakati oleh kaum muslimin sebagai rujukan utama di dalam riwayat hadits.
Apa sikap mereka terhadap Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim? Dua referensi hadits yang disepakati ulama, bahkan kaum muslimin secara umum, sebagai dua kitab yang paling sahih setelah al-Qur’an?
Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan dalam Syarah Shahih Muslim, “Para ulama rahimahumullah telah bersepakat bahwa kitab paling sahih setelah al-Qur’an al-Aziz adalah ash-Shahihain; al-Bukhari dan Muslim. Bahkan, seluruh umat dapat menerimanya.”
Namun, bagaimanakah sikap Syiah? Mereka tidak dapat menerima riwayat hadits di dalam kedua kitab tersebut. Sebab, mereka meyakini bahwa para sahabat telah murtad setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, kecuali tiga orang, yaitu Abu Dzar, al-Miqdad, dan Salman al-Farisi radhiallahu ‘anhum.
Bukankah ini bentuk pelecehan terhadap sahabat? Bukankah hal ini bentuk cela mereka terhadap sahabat? Jika demikian, dari mana ajaran Islam dapat sampai kepada umat jika para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dicerca?
Mereka menuduh para sahabat masuk Islam karena paksaan, faktor ekonomi, penuh keraguan, munafik, dan celaan lainnya. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh tokoh mereka, Husain bin Abdus Shamad dalam Musthalah Hadits-nya. Lihatlah pernyataan tokoh besar mereka, Alu Kasyif al-Ghitha’ (Ushulus Syiah, hlm. 79) yang berkata, “Kaum Syiah tidak menganggap sunnah kecuali riwayat dari ahlu bait yang dinilai sahih. Adapun seperti riwayat Abu Hurairah dan Samurah bin Jundub, tidak berharga bagi kalangan Imamiyah walau senilai sayap nyamuk.”
Pantas saja apabila Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dicela dan dijatuhkan kredibilitasnya! Sebab, riwayat Abu Hurairah banyak membongkar kesesatan dan kedustaan kaum Syiah. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu riwayat al-Bukhari dan Muslim,
لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَ نَصِيفَه
“Janganlah kalian mencela seorang pun dari sahabat-sahabatku! Sungguh, jika salah salah seorang di antara kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan bisa menyamai infak satu mud mereka, bahkan setengahnya.”
Parahnya lagi, kaum Syiah mencela imam kaum muslimin yang empat: Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad. Bahkan, dalam kitab asy-Syiah Hum Ahlus Sunnah (hlm. 109), sang penulis mengatakan, “… Empat mazhab yang diakui oleh Ahlus Sunnah hanyalah mazhab yang direkayasa oleh kaum politikus.”
Astaghfirullah! Sungguh keji dan dusta tuduhan mereka! Akidah Syiah semacam itu, apakah seorang muslim memakai perasaan dan empati untuk menganggap Syiah sebagai saudaranya?
Apakah ia ingin memaksakan kehendak, dengan pura-pura buta dari fakta, untuk menyatukan antara Sunnah dan Syiah?!

Kontradiksi Riwayat-Riwayat Syiah
Setelah membaca keterangan ringkas di atas, kita dapat mengukur keakuratan dan kevalidan sistem riwayat di kalangan Syiah. Oleh sebab itu, jangan heran apabila riwayat-riwayat kaum Syiah memiliki banyak kontradiksi dan pertentangan. Tidak ada satu pun riwayat kecuali pasti ditemukan riwayat lain yang bertentangan.
Fakta ini diakui sendiri oleh mereka, seperti oleh as-Sayyid Dildar as-Syi’i dalam kitab Asasul Ushul (hlm. 5), Husain bin Syihabudin al-Kurki dalam kitab Hidayatul Abrar (hlm. 264), dan as-Sayyid Hasyim Ma’ruf al-Husaini dalam kitab al-Maudhu’at (hlm. 165 cetakan pertama).
Simak saja pernyataan seorang tokoh terkemuka Syiah di dalam sebuah referensi utama mereka. Di dalam mukadimah kitab Tahdzibul Ahkam, Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan at-Thusi mengatakan, “… Sampai-sampai setiap kabar yang ada, pasti di sana ada yang bertentangan dengannya. Tidak ada satu pun hadits yang selamat kecuali di sisi lain ada yang menafikannya. Hal ini menjadi salah satu kritikan terbesar dari orang yang menyelisihi mazhab kita.”

Jangan Mudah Tertipu oleh Syiah!
Setelah sedikit mengenal metode periwayatan hadits yang berlaku di kalangan Syiah, semestinya kita berhatihati dan tidak mudah terpengaruh oleh riwayat-riwayat mereka. Kita justru harus mengubur rasa penasaran atau rasa ingin tahu tentang riwayat-riwayat Syiah. Khawatirnya, riwayat mereka yang kita baca kemudian menimbulkan syak dan syubhat (kerancuan pemikiran) di hati.
Nukilan tentang Syiah di atas kiranya cukup. Nukilan tersebut penulis ambil dari dua buah kitab, yaitu Haqiqatus Syiah karya Abdullah al-Maushili, dan Aqa’idus Syiah karya Abdurrahman as-Syatsri.
Mudah-mudahan kaum muslimin memperoleh pencerahan dan hidayah dari Allah ‘azza wa jalla sehingga semakin memahami tentang hakikat gerakan Syiah.
Amin ya Arham ar-Rahimin.

Di Balik Keagungan Kitab Suci Al-Qur’an

Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Al-Qur’an adalah wahyu ilahi, bukan produk budaya.[1] Keberadaannya sebagai kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) memosisikannya sebagai kitab suci yang mulia. Ia bukan makhluk, bukan perkataan Malaikat Jibril ‘alaihissallam, bukan perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pula perkataan makhluk manapun. Allah ‘azza wa jalla telah menulisnya secara sempurna dalam Lauh Mahfuzh sejak langit dan bumi belum tercipta.
Demikianlah yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Abbas c dan selain beliau dari as-Salaf (pendahulu umat ini) yang mulia.[2] Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Haa Miim. Demi kitab (al-Qur’an) yang menerangkan. Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur’an dalam bahasa arab supaya kalian memahami(nya). Dan sesungguhnya al-Qur’an itu dalam induk al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.”  (az-Zukhruf: 1—4)
“Bahkan, yang didustakan mereka itu ialah al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (al-Buruj: 21—22)
“Sesungguhnya al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan, diturunkan dari Rabbil ‘alamin.” (al-Waqi’ah: 77—80)
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Al-Qur’an telah ditulis oleh Allah ‘azza wa jalla dalam Lauh Mahfuzh sebelum penciptaan langit dan bumi.” (Syifa’ul ‘Alil, hlm. 41)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menegaskan bahwa ini adalah perkataan as-Salaf dan Ahlus Sunnah tentang al-Qur’an. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, hlm. 225 dan Syarh al-Aqidah as-Safariniyah 1/215, catatan kaki no. 1)
Kemudian Allah ‘azza wa jalla menurunkannya ke Baitul ‘Izzah di langit dunia secara sekaligus pada malam Lailatul Qadar yang penuh berkah di Bulan Suci Ramadhan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadr.” (al-Qadr: 1)
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (ad-Dukhan: 3)
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (al-Baqarah: 185)
Kemudian Allah ‘azza wa jalla menurunkannya ke dunia kepada Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Malaikat Jibril ‘alaihissallam selama 23 tahun secara berangsur-angsur. Dengan sebuah hikmah, agar lebih mudah dalam proses penyampaian dan pengajarannya kepada umat, dan lebih mengokohkan jiwa beliau dalam menghadapi berbagai ujian dan tantangan yang ada. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (asy-Syu’ara’: 192—194)
“Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan secara berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (al-Isra’: 106)
“Berkatalah orang-orang yang kafir, ‘Mengapa al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya secara sekaligus saja?’; demikianlah supaya Kami mengokohkan jiwamu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (al-Furqan: 32)
Abdullah bin Abbas c berkata, “Allah ‘azza wa jalla menurunkan al-Qur’an secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia, kemudian menurunkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara terperinci selama 23 tahun, sesuai dengan kasus dan peristiwa yang ada.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/441)
Dalam kurun waktu 23 tahun itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada para sahabatnya,mengajarkan tafsir (rincian makna)-nya, dan mencontohkan berbagai bentuk pengamalannya dalam kehidupan sebagai pembelajaran dan keteladanan terbaik untuk mereka. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Sungguh Allah telah memberi anugerah kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah, dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali Imran: 164)
Asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh menjelaskan bahwa al-Qur’an mempunyai dua keadaan; tertulis (maktub) dan didengar (masmu’). Adapun yang tertulis (maktub) maka ada pada tiga hal:
1) Lauh Mahfuzh, ditulis padanya al-Qur’an secara sempurna dari awal hingga akhir.
2) Baitul Izzah di langit dunia. Allah ‘azza wa jalla menurunkan al-Qur’an (dari Lauh Mahfuzh) secara sekaligus dalam bentuk tulisan dan menempatkannya di Baitul Izzah.
3) Mushaf al-Qur’an yang ada di tangan kaum muslimin.
Dalam tiga hal ini, tidak ada peran dari Malaikat Jibril sama sekali. Berikutnya, al-Qur’an yang tertulis di Lauh Mahfuzh, Baitul Izzah, dan Mushaf al-Qur’an semuanya adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) bukan makhluk. Adapun yang didengar (masmu’) maka terjadi saat al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘azza wa jalla menyampaikannya kepada Malaikat Jibril ‘alaihissallam dengan huruf (lafadz) dan maknanya yang didengar, kemudian Malaikat Jibril ‘alaihissallam menyampaikannya secara langsung apa yang didengarnya dari Allah ‘azza wa jalla tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan dengan cara seperti itu. (Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 382 dan Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah 1/363)

Kedudukan Al-Qur’an dalam Kehidupan Umat Manusia
Al-Qur’an merupakan pedoman dan lentera kehidupan bagi umat manusia. Kedudukannya sangat tinggi dan hikmah yang dikandungnya pun sangat berharga. Di dalamnya terdapat lautan ilmu, petunjuk kepada jalan yang lurus, cahaya kebenaran, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (an-Nahl: 89)
“Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari al-Kitab yang kalian sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan (al-Qur’an). Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (al-Maidah: 15—16)
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kitabullah (al-Qur’an) adalah yang paling berhak untuk dicurahkan kepadanya perhatian dan kesungguhan, yang paling agung untuk dikerahkan kepadanya pemikiran dan ditorehkan dengannya pena, karena ia sumber segala ilmu dan hikmah, tempat semua petunjuk dan rahmat. Al-Qur’an merupakan bekal termulia bagi ahli ibadah dan pegangan terkuat bagi orang-orang yang berpegang teguh (istiqamah). Barang siapa berpegang teguh dengannya maka sungguh telah berpegang dengan tali yang kuat. Barang siapa yang berjalan di atasnya maka sungguh telah berjalan di atas jalan yang lurus dan terbimbing menuju ash-shirathal mustaqim.” (Al-Fawaid al-Musyawwiq ila Ulumil Qur’an wa Ilmil Bayan, hlm. 6—7)
Tak heran, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghasung umatnya supaya mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya. Dengannya, predikat terbaik akan diraih dan dengannya pula berbagai kebaikan akan selalu mengiringi perjalanan hidup mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” ( HR. al-Bukhari no. 5027, dari sahabat Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu)

Al-Qur’an, Kitab Suci yang Sangat Terpelihara
Al-Qur’an kitab suci yang sangat terpelihara. Tidak akan datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya. Karena yang menurunkannya ialah Allah ‘azza wa jalla Dzat yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji. Dia ‘azza wa jalla telah berjanji memeliharanya untuk selama-lamanya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fushshilat: 42)
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr: 9)
Lebih dari itu, al-Qur’an berkedudukan sebagai tolok ukur kebenaran terhadap kandungan kitab-kitab sebelumnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Dan Kami telah menurunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan tolok ukur kebenaran terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (al-Maidah: 48)
Demikian agung dan terpeliharanya Kitab Suci al-Qur’an. Namun, di mata kaum Syi’ah yang sesat ternyata tidak demikian adanya. Al-Qur’an yang merupakan kitab suci umat Islam tak lagi dianggap suci oleh mereka, bahkan tidak sah dan kurang dari yang aslinya.
Disebutkan dalam kitab al-Kafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih al-Bukhari di sisi kaum muslimin) karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini 2/634 dari Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq), dia berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu (ada) 17.000 ayat.”
Pada 1/239—240 disebutkan dari Abu Abdillah, dia berkata, “Sesungguhnya di sisi kami ada Mushaf Fatimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa Mushaf Fatimah itu. Abu Bashir berkata, ‘Apa mushaf Fatimah itu?’ Dia (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf yang isinya 3 kali lipat dari yang ada di mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian’.” (Dinukil dari kitab asy-Syi’ah wal Qur’an karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 31—32)
“Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (al-Kahfi: 5)
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain’.” (al-Isra’: 88)

Al-Qur’an Kalamullah, Bukan Makhluk
Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah yang paling mendasar adalah keyakinan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), bukan makhluk. Allah ‘azza wa jalla berfirman dengannya secara hakiki, dengan huruf (lafadz) dan maknanya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Termasuk dari keimanan kepada Allah ‘azza wa jalla dan kitab-kitab-Nya adalah beriman bahwa al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) yang diturunkan dari Allah ‘azza wa jalla, bukan makhluk. Dari Allah ‘azza wa jalla al-Qur’an itu berasal dan kepada-Nya pula ia akan kembali. Allah ‘azza wa jalla berfirman (berkata) dengannya secara hakiki. Al-Qur’an yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) secara hakiki, bukan perkataan selain-Nya. Tidak boleh menyatakan bahwa al-Qur’an hikayat tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) atau ungkapan tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla). Bahkan, jika al-Qur’an itu dibaca oleh manusia atau ditulis dalam mushaf-mushaf, tidaklah mengeluarkan dia dari kedudukannya sebagai kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) yang sebenarnya. Sebab, sebuah perkataan disandarkan hanya kepada yang pertama kali mengatakannya, tidak kepada pihak (kedua, -pen.) yang berstatus sebagai penyampainya. Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), huruf (lafadz) dan maknanya. Kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) itu bukanlah huruf (lafadz) semata tanpa makna, dan bukan pula makna semata tanpa huruf (lafadz).” (al-Aqidah al-Wasithiyah)
Prinsip Ahlus Sunnah tersebut sungguh berbeda dengan prinsip kelompok sesat Mu’tazilah[3] dan Jahmiyah[4] yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Berawal dari niatan ingin menyucikan Allah ‘azza wa jalla dari sifat-sifat makhluk-Nya—dengan mengandalkan akal tanpa bimbingan ilmu—akhirnya terjatuh dalam sikap yang lebih ekstrem, yaitu ta’thil (meniadakan) sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla secara total, termasuk sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla. Dengan itu, mereka menetapkan bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak mempunyai sifat berbicara alias bisu. Mahasuci Allah ‘azza wa jalla dari pernyataan keji mereka itu. Karenanya, para ulama Ahlus Sunnah menyatakan, “Barang siapa mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk maka dia kafir.”
Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan sifat kalam (berbicara) untuk diri-Nya yang  Mahamulia sebagaimana yang terdapat dalam banyak ayat dari al-Qur’an, demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak haditsnya. Tentunya, sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla tersebut sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, tidak serupa sama sekali dengan sifat makhluk-Nya. Adapun al-Qur’an, dengan tegas Allah ‘azza wa jalla menyatakan bahwa ia adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) sebagaimana dalam firman-Nya,
“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya sempat mendengar kalamullah (Al-Qur’an), kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (at-Taubah: 6)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Padanya terdapat hujah (argumen) yang gamblang bagi mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menyatakan bahwa al-Qur’an kalamullah bukan makhluk, karena Dia ‘azza wa jalla yang berfirman dengannya (al-Qur’an). Allah ‘azza wa jalla menyandarkan (mengidhafahkan) al-Qur’an kepada diri-Nya sebagai bentuk penyandaran sifat kepada Dzat yang disifati (yakni Allah ‘azza wa jalla). Padanya pula terdapat bukti kebatilan mazhab Mu’tazilah dan yang mengikuti mereka yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Betapa banyak dalil yang menunjukkan batilnya pernyataan tersebut, namun bukan di sini tempat untuk membahasnya.” (Taisir al-Karimirrahman 1/329)
Kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang membantah syubhat-syubhat Mu’tazilah dan Jahmiyah cukup banyak, terkhusus dalam permasalahan al-Qur’an. Di antaranya; ar-Rad ‘ala az-Zanadiqah wal Jahmiyah karya al- Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, ar-Rad ‘ala al-Jahmiyah karya al-Imam Muhammad bin Ishaq bin Mandah rahimahullah, ar-Rad ‘ala al-Jahmiyah karya al-Imam ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi rahimahullah, al-Haidah wa al-I’tidzar firraddi ‘ala Man Qala Bikhalqi al-Qur’an karya al-Imam Abdul Aziz bin Yahya al-Kinani rahimahullah, dan yang lainnya.
Prinsip Ahlus Sunnah tersebut juga sangat berbeda dengan prinsip kelompok sesat Kullabiyah[5] yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah hikayat tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), atau kelompok sesat Asya’irah[6] yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah ungkapan tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla).[7]
Dasar mereka adalah bahwa sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla adalah qadim (azali), sama dengan sifat ilmu (mengetahui) bagi Allah ‘azza wa jalla, sehingga tidak berbilang karena adanya suatu kehendak atau kejadian. Maka dari itu, al-Qur’an adalah kalam nafsi bagi Allah ‘azza wa jalla bukan kalam hakiki. Maksudnya, Allah ‘azza wa jalla berbicara dalam jiwanya (tidak terdengar), lantas menjadikan Malaikat Jibril ‘alaihissallam paham tentangnya, kemudian Malaikat Jibrillah yang mengungkapkannya dalam bentuk firman yang mempunyai huruf dan lafadz (suara). Jadi, maknanya berasal dari Allah ‘azza wa jalla sedangkan lafadznya dari Malaikat Jibril ‘alaihissallam. (Ajwibah Mufidah ‘an As’ilah ‘Adidah, asy-Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hlm. 26 dan Syarh al- Aqidah ath-Thahawiyah karya asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh hlm. 113)
Menurut asy-Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah, prinsip Asya’irah tentang al-Qur’an ini sama dengan prinsip orang Kristen tentang Isa al-Masih. Menurut orang Kristen, Isa al-Masih merupakan gabungan dari Dzat Allah ‘azza wa jalla dan Maryam (makhluk). Demikian pula menurut Asya’irah, al-Qur’an merupakan gabungan dari Dzat Allah ‘azza wa jalla dan makhluk. Yakni maknanya dari Allah ‘azza wa jalla (kalam nafsi), sedangkan huruf dan lafadznya dari Malaikat Jibril ‘alaihissallam atau Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 98)
Para ulama Ahlus Sunnah dalam kitab-kitab mereka menjelaskan bahwa sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jallaqadimun nau’ wa haditsul ahad”. Qadimun nau’ maksudnya, sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla itu qadim (azali), selalu ada dan melekat pada Dzat Allah ‘azza wa jalla. Haditsul ahad maksudnya, Allah ‘azza wa jalla Maha Berbicara kapan saja Dia ‘azza wa jalla berkendak untuk berbicara, sesuai dengan kemuliaan dan kebesaran-Nya. Dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah menunjukkan bahwa Allah ‘azza wa jalla berbicara secara hakiki, dengan huruf (lafadz) dan maknanya. Tidak dengan huruf (lafadz)-nya semata tanpa maknanya sebagaimana klaim Mu’tazilah dan Jahmiyah, dan tidak pula dengan maknanya semata tanpa huruf (lafadz) sebagaimana klaim Kullabiyah dan Asya’irah. Dengan itulah, pemahaman tentang sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla menjadi benar, dan dengan itu pula pemahaman tentang hakikat al-Qur’an menjadi lurus.[8]
Kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang membantah secara detail kelompok sesat Asya’irah dan yang semisalnya cukup banyak, di antaranya Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (di beberapa tempat darinya), kitab at-Tis’iniyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang disebutkan padanya sembilan puluh sisi bantahan terhadap syubhat-syubhat mereka, karena itu disebut dengan at-Tis’iniyah, karya-karya al-Imam Ibnul Qayyim terutama kitab Mukhtashar ash-Shawaiq al-Mursalah, dan selainnya dari kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang mulia.
Demikianlah yang dijelaskan oleh asy-Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah dalam Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah (hlm. 113), dan asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullah dalam Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah (hlm. 119) dan Syarh al-Aqidah al- Wasithiyah (1/354).
Ya Allah, jadikanlah al-Qur’an itu sebagai penyejuk hati kami, cahaya jiwa kami, pelipur lara kesedihan kami, dan penyirna kegundahan kami.

[1] Belakangan ini muncul statemen sesat bahwa al-Qur’an adalah produk budaya, dalam hal ini budaya masyarakat Arab yang al-Qur’an turun di tengah-tengah mereka. Statemen ini datang dari antek-antek para orientalis barat, semisal Nasr Hamid Abu Zaid asal Mesir. Ujungnya, al-Qur’an bukan kitab suci yang sakral sehingga layak dikritisi secara teks apalagi maknanya karena ia hanyalah produk budaya. Betapa bahayanya statemen tersebut. Fakta membuktikan bahwa al-Qur’an adalah wahyu ilahi yang justru banyak membongkar berbagai kesesatan budaya Arab ketika itu, bahkan memaparkan jalan-jalan kebenaran yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Lebih dari itu, al-Qur’an meluruskan makna kosa kata Arab yang lekat dengan budaya mereka kepada makna yang islami. Misalnya kosa kata ikhwah, dalam budaya Arab ketika itu berkonotasi pada kekuatan dan fanatik kesukuan, lantas diubah maknanya dengan memperkenalkan gagasan persaudaraan yang dibangun di atas dasar iman, yang lebih tinggi dari sebatas hubungan darah dan kesukuan.
[2] Lihat Tafsir Ibnu Abbas (2/135), Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (15/223—224), Fatawa wa Rasail Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh (1/225), dan Adhwa’ul Bayan karya asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, tafsir QS. Fushshilat: 2 dan QS. al-Qadr: 1
[3] Pengikut Abu Hudzaifah Washil bin Atha’ al-Ghazzal al-Bashri, mantan murid al-Imam Hasan al-Bashri yang
menyimpang dari kebenaran.
[4] Pengikut Jahm bin Shafwan at-Tirmidzi yang merupakan murid dari Ja’ad bin Dirham. Ja’ad bin Dirham sendiri tergolong orang pertama dari umat ini yang meniadakan sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla dan mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk.
[5] Pengikut Abu Muhammad Abdullah bin Sa’id bin Kullab al-Bashri.
[6] Pengikut Abul Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari yang berpegang dengan prinsip-prinsip beliau pada fase ketika bersama Kullabiyah. Adapun beliau sendiri, telah menyatakan rujuk dari berbagai penyimpangan tersebut dan berupaya berpijak di atas prinsip Ahlus Sunnah (fase ketiga), walaupun masih ada beberapa hal yang terluput dari beliau. Lihat Majalah asy-Syari’ah edisi Mengupas Paham Asy’ariyah.
[7] Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (12/160—161).
[8] Lihat at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘ala Matni al-Aqidah ath-Thahawiyah karya asy-Syaikh Shalih al-Fauzan (hlm. 66—71), Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah karya asy-Syaikh Muhammad Khalil al-Harras (hlm. 181—187), Syarh Lum’atul I’tiqad karya asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (hlm. 19—20), dll.

Cara Menghadapi Syiah

Al-Ustadz Abu Hamzah YusufDartSyiah menjadi bahaya laten yang mengancam cukup serius di negara kita. Maka dari itu, bekal yang paling penting untukmenghadapi mereka adalah bertafaqquh fiddin, mempelajari ilmu agama Islam dengan benar yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman para ulama salaf, generasi terbaik umat ini.Ilmu akidah adalah ilmu yang paling penting bagi setiap muslim. Sebab, akidah adalah fondasi dan pilar-pilar yang dibangun di atasnya bangunan-bangunan Islam lainnya. Akidah yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan tameng untuk menjaga seorang muslim dari penyimpangan, kesesatan, dan kesyirikan.Seluruh kaum muslimin hendaknya tidak mencoba untuk menelaah pemikiran-pemikiran mereka atau mendengar syubhat-syubhatnya. Sungguh, akan menjadi musibah yang besar manakala seseorang membaca dan meneliti serta mendengar syubhat-syubhat kelompok Syiah sedangkan pemikirannya kosong dari akidah yang benar. Hal itu akan menyeretnya kepada penyimpangan.Begitulah akidah dan paham-paham yang menyimpang. Ia tidak akan datang kecuali kepada orang-orang yang bodoh. Allahsubhanahu wa ta’alatelah berfirman,“Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (al-Qur’an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain….”(an-Nisa:140)Para ulama telah menetapkan melalui tafsiran dari ayat ini bahwa tidak diperbolehkan mendengarkan perkataan orang yang menyimpang, sesat, dan ahli bid’ah, serta tidak boleh duduk bersama mereka. Sebab, apabila mendengarkannya, seseorang akan terlibat bersama mereka dalam dosanya. Selain itu, bisa jadi mereka akan meniupkan racun (syubhat) kepada dirinya. Inilah musibah yang menimpa agama seseorang.Generasi muda kaum muslimin hendaknya tidak menyepelekan bahaya laten Syiah yang terus menggerogoti umat. Sebab, tidaklah mereka tinggal di suatu negara melainkan akan meniupkan api, membakar setiap yang basah dan kering, serta mengembuskan racunnya. KelompokSyiah siap menggelontorkan materi dan dana kepada kaum muslimin asalkan mereka mau mengambil akidahnya, mengambil akhlaknya, bahkan agamanya. Inilah yang perlu diwaspadai.Asy-Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Bazrahimahullah, dalam nasihatnya menghadapi kelompok Syiah Rafidhah, menegaskan, “Kami menasihati seluruh kaum muslimin agar tidak tertipu olh seruan-seruan kelompok Syiah. Sebab, segala seruan mereka yang mengatasnamakan Islam, tidak berdasar dan tidak benar. Semuanya masuk dalam kerangka perbuatan munafik. Mereka adalah para munafik dan tukangtaqiyyah. Siapa yang melihat kitab-kitabnya, pasti mengetahuinya. Kaum mukminin dan muslimin semestinya mengetahui bahwa seruan (Republik Islam Iran), semua itu tidak ada hakikatnya. Tampak dari luar saja seperti Islam, namun batinnya menyelisihi Islam. Batinnya adalahwatsaniyyah(penyembahan terhadap berhala) dan permusuhan terhadap Islam serta seluruh para sahabat, sertatidak menampakkan keridhaan kepada mereka. Yang ada, mereka malah mengafirkan dan memvonis fasik para sahabat, kecuali sebagian kecil saja.Intinya, Khomeini dan para pengikutnya adalah tokoh-tokoh (Syiah) Rafidhah, pengagum akidah Rafidhah dan berpegangteguh dengannya. Mereka mengagungkan imam yang dua belas serta mengklaim bahwa imam-imam itulah yang paling berhak atas predikat imam dan mendapatkan kepemimpinan,dan yang paling tingginya adalah Alishallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak mengakui kepemimpinan yang lain danmenganggapnya batil. Benar bahwa Alishallallahu ‘alaihi wa sallam, ialah seorang imam yang saleh, khalifah keempat setelah tiga khalifah sebelumnya, sahabat yang paling utamasetelah tiga sahabat sebelumnya. Demikian juga al-Hasan dan al-Husein, merupakan sahabat, semoga Allahsubhanahuwa ta’alameridhainya. Akan tetapi, mereka tidak menjadi pemimpin, kecuali al-Hasan menjadi pemimpin sebentar kemudian mengundurkan diri dan menyerahkan kepemimpinan kepada Mu’awiyahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara itu, al-Husein sama sekali tidak menjadi pemimpin. Orang-orang Rafidhah (Syiah) tidak memiliki ilmu pengetahuan, tidak ada pada diri mereka kecuali klaim-klaim yang tidak berdasar.” (www.binbaz.org)Salah satu pintu menyesatkan umat yang dilakukan oleh kelompok Syiah adalah slogan “cinta Ahlul Bait”. Maka dari itu, seorang muslim tidak boleh tertipu ketika kaum Syiah mengawali pembicaraannya dengan hal itu. Mereka adalah orang-orang yang sudah ada penyimpangan dalam hatinya. Allahsubhanahu wa ta’alamenyebutkan dalam firman-Nya,“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencaricari takwilnya….”(Ali Imran: 7)Yang dapat membentengi kita dari kesesatan Syiah adalah dengan mengetahui akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan senantiasa merujuk kepada tafsiran-tafsiran para salaf, serta kembali kepada para ulama rabbani.Menurut akidah Ahlus Sunnah, tidak ada seorang imam yangdiagungkan, yang diambil semua perkataannya dan ditinggalkan semua yang menyelisihannya, selain Rasulullahn. Keistimewaan ini tidaklah ada pada imam-imam yang lain. Setiap orang dapat diambil perkataannya dan ditinggalkan, tidak ada yang maksum selain beliau n.Ahlus Sunnah mengikuti jalan para pendahulu dari kalangan sahabat. Allahsubhanahu wa ta’alaberfirman,“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allahridha kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”(at-Taubah: 100)Ahlus Sunnah selalu menjaga lisan dan hatinya terkait dengan para sahabat Rasulullah n, sebagaimana yang Allahsubhanahu wa ta’alasebutkan sifat mereka dalam firman-Nya,Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.”(al-Hasyr: 10)Sebagai bentuk ketaatan kepada Nabi n, sebagaimana disebutkan dalam sabdanya,لَاتَسُبُّواأَصْحَابِي،فَوَالَّذِينَفْسِيبِيَدِهِ،لَوْأَنَّأَحَدَكُمْأَنْفَقَمِثْلَأُحُدٍذَهَبًامَابَلَغَمُدَّأَحَدِهِمْوَلاَنَصِيفَهُ“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, andai salah seorang dari kalian berinfak dengan emas seperti Gunung Uhud, niscaya hal itu tidak akan dapat menyamai infak salah seorang dari mereka walau satu mud, tidak pula setengahnya.” (HR. al-BukharidanMuslim)Ahlus Sunnah menerima apa yang datang dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah n serta apa yang telah menjadi konsensus (ijma’) yang terkait dengan keutamaan dan kedudukan para sahabat.Kelompok Syiah tidak jujur dalam klaimnya sebagai pecinta Ahlul Bait, karena pada kenyataannya mereka tidak mencintai Ahlul Bait Nabi n, tidak pula Ahlu Bait Alishallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak mengambil petunjuknya, tidak mengikuti jalannya, tidak menaati perintahnya. Mereka justru menentang dan menyelisihinya, bahkan dengan terang-terangan hal itu mereka lakukan terutama kepada al-Khulafa ar-Rasyidin, Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi n), dan seluruh sahabat beliau g.Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa Allahsubhanahu wa ta’alaridha kepada para sahabat. Al-Qur’an pun memberi rekomendasi tentang keimanan yang sesungguhnya pada diri mereka. Allahsubhanahu wa ta’alaberfirman,“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud.Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus diatas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanampenanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar.”(al-Fath: 29)“Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada mereka.”(at-Taubah: 117)“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.”(al-Anfal: 74)Wallahu a’lam.