Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi
Al-Qur’an adalah wahyu ilahi, bukan produk budaya.[1] Keberadaannya sebagai kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) memosisikannya sebagai kitab suci yang mulia. Ia bukan makhluk, bukan perkataan Malaikat Jibril ‘alaihissallam, bukan perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pula perkataan makhluk manapun. Allah ‘azza wa jalla telah menulisnya secara sempurna dalam Lauh Mahfuzh sejak langit dan bumi belum tercipta.
Demikianlah yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Abbas c dan selain beliau dari as-Salaf (pendahulu umat ini) yang mulia.[2] Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Haa Miim. Demi kitab (al-Qur’an) yang menerangkan. Sesungguhnya
Kami menjadikan al-Qur’an dalam bahasa arab supaya kalian memahami(nya).
Dan sesungguhnya al-Qur’an itu dalam induk al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di
sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak
mengandung hikmah.” (az-Zukhruf: 1—4)
“Bahkan, yang didustakan mereka itu ialah al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (al-Buruj: 21—22)
“Sesungguhnya al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat
mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya
kecuali orang-orang yang disucikan, diturunkan dari Rabbil ‘alamin.” (al-Waqi’ah: 77—80)
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Al-Qur’an telah ditulis oleh Allah ‘azza wa jalla dalam Lauh Mahfuzh sebelum penciptaan langit dan bumi.” (Syifa’ul ‘Alil, hlm. 41)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menegaskan bahwa ini adalah perkataan as-Salaf dan Ahlus Sunnah tentang al-Qur’an. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, hlm. 225 dan Syarh al-Aqidah as-Safariniyah 1/215, catatan kaki no. 1)
Kemudian Allah ‘azza wa jalla menurunkannya ke Baitul ‘Izzah di langit dunia secara sekaligus pada malam Lailatul Qadar yang penuh berkah di Bulan Suci Ramadhan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadr.” (al-Qadr: 1)
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (ad-Dukhan: 3)
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan
yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq
dan yang batil).” (al-Baqarah: 185)
Kemudian Allah ‘azza wa jalla menurunkannya ke dunia kepada Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Malaikat Jibril ‘alaihissallam
selama 23 tahun secara berangsur-angsur. Dengan sebuah hikmah, agar
lebih mudah dalam proses penyampaian dan pengajarannya kepada umat, dan
lebih mengokohkan jiwa beliau dalam menghadapi berbagai ujian dan
tantangan yang ada. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb
semesta alam. Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam
hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang
yang memberi peringatan.” (asy-Syu’ara’: 192—194)
“Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan secara berangsur-angsur
agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami
menurunkannya bagian demi bagian.” (al-Isra’: 106)
“Berkatalah orang-orang yang kafir, ‘Mengapa al-Qur’an itu tidak
diturunkan kepadanya secara sekaligus saja?’; demikianlah supaya Kami
mengokohkan jiwamu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur
dan benar).” (al-Furqan: 32)
Abdullah bin Abbas c berkata, “Allah ‘azza wa jalla menurunkan al-Qur’an secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia, kemudian menurunkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara terperinci selama 23 tahun, sesuai dengan kasus dan peristiwa yang ada.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/441)
Dalam kurun waktu 23 tahun itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
membacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada para sahabatnya,mengajarkan
tafsir (rincian makna)-nya, dan mencontohkan berbagai bentuk
pengamalannya dalam kehidupan sebagai pembelajaran dan keteladanan
terbaik untuk mereka. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Sungguh Allah telah memberi anugerah kepada orang-orang yang
beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari
golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah,
membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan
al-Hikmah, dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah
benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali Imran: 164)
Asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh menjelaskan bahwa al-Qur’an mempunyai dua keadaan; tertulis (maktub) dan didengar (masmu’). Adapun yang tertulis (maktub) maka ada pada tiga hal:
1) Lauh Mahfuzh, ditulis padanya al-Qur’an secara sempurna dari awal hingga akhir.
2) Baitul Izzah di langit dunia. Allah ‘azza wa jalla menurunkan al-Qur’an (dari Lauh Mahfuzh) secara sekaligus dalam bentuk tulisan dan menempatkannya di Baitul Izzah.
3) Mushaf al-Qur’an yang ada di tangan kaum muslimin.
Dalam tiga hal ini, tidak ada peran dari Malaikat Jibril sama sekali. Berikutnya, al-Qur’an yang tertulis di Lauh Mahfuzh, Baitul Izzah, dan Mushaf al-Qur’an semuanya adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) bukan makhluk. Adapun yang didengar (masmu’) maka terjadi saat al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘azza wa jalla menyampaikannya kepada Malaikat Jibril ‘alaihissallam dengan huruf (lafadz) dan maknanya yang didengar, kemudian Malaikat Jibril ‘alaihissallam menyampaikannya secara langsung apa yang didengarnya dari Allah ‘azza wa jalla tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan dengan cara seperti itu. (Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 382 dan Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah 1/363)
Kedudukan Al-Qur’an dalam Kehidupan Umat Manusia
Al-Qur’an merupakan pedoman dan lentera kehidupan bagi umat manusia.
Kedudukannya sangat tinggi dan hikmah yang dikandungnya pun sangat
berharga. Di dalamnya terdapat lautan ilmu, petunjuk kepada jalan yang
lurus, cahaya kebenaran, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang
berserah diri kepada-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk
menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira
bagi orang-orang yang berserah diri.” (an-Nahl: 89)
“Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul kami,
menjelaskan kepada kalian banyak dari al-Kitab yang kalian sembunyikan
dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada
kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan (al-Qur’an). Dengan
kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya
kepada jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan
orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang
dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (al-Maidah: 15—16)
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kitabullah
(al-Qur’an) adalah yang paling berhak untuk dicurahkan kepadanya
perhatian dan kesungguhan, yang paling agung untuk dikerahkan kepadanya
pemikiran dan ditorehkan dengannya pena, karena ia sumber segala ilmu
dan hikmah, tempat semua petunjuk dan rahmat. Al-Qur’an merupakan bekal
termulia bagi ahli ibadah dan pegangan terkuat bagi orang-orang yang
berpegang teguh (istiqamah). Barang siapa berpegang teguh dengannya maka
sungguh telah berpegang dengan tali yang kuat. Barang siapa yang
berjalan di atasnya maka sungguh telah berjalan di atas jalan yang lurus
dan terbimbing menuju ash-shirathal mustaqim.” (Al-Fawaid al-Musyawwiq ila Ulumil Qur’an wa Ilmil Bayan, hlm. 6—7)
Tak heran, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menghasung umatnya supaya mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.
Dengannya, predikat terbaik akan diraih dan dengannya pula berbagai
kebaikan akan selalu mengiringi perjalanan hidup mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” ( HR. al-Bukhari no. 5027, dari sahabat Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu)
Al-Qur’an, Kitab Suci yang Sangat Terpelihara
Al-Qur’an kitab suci yang sangat terpelihara. Tidak akan datang
kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya. Karena yang
menurunkannya ialah Allah ‘azza wa jalla Dzat yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji. Dia ‘azza wa jalla telah berjanji memeliharanya untuk selama-lamanya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan baik dari
depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang
Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fushshilat: 42)
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr: 9)
Lebih dari itu, al-Qur’an berkedudukan sebagai tolok ukur kebenaran terhadap kandungan kitab-kitab sebelumnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Dan Kami telah menurunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa
kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang
diturunkan sebelumnya) dan tolok ukur kebenaran terhadap kitab-kitab
yang lain itu.” (al-Maidah: 48)
Demikian agung dan terpeliharanya Kitab Suci al-Qur’an. Namun, di
mata kaum Syi’ah yang sesat ternyata tidak demikian adanya. Al-Qur’an
yang merupakan kitab suci umat Islam tak lagi dianggap suci oleh mereka,
bahkan tidak sah dan kurang dari yang aslinya.
Disebutkan dalam kitab al-Kafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih al-Bukhari di
sisi kaum muslimin) karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini
2/634 dari Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq), dia berkata, “Sesungguhnya
al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu (ada) 17.000 ayat.”
Pada 1/239—240 disebutkan dari Abu Abdillah, dia berkata, “Sesungguhnya di sisi kami ada Mushaf Fatimah ‘alaihas salam,
mereka tidak tahu apa Mushaf Fatimah itu. Abu Bashir berkata, ‘Apa
mushaf Fatimah itu?’ Dia (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf yang isinya 3
kali lipat dari yang ada di mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya
satu huruf pun dari al-Qur’an kalian’.” (Dinukil dari kitab asy-Syi’ah wal Qur’an karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 31—32)
“Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (al-Kahfi: 5)
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk
membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan
dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi
pembantu bagi sebagian yang lain’.” (al-Isra’: 88)
Al-Qur’an Kalamullah, Bukan Makhluk
Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah yang paling mendasar adalah keyakinan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), bukan makhluk. Allah ‘azza wa jalla berfirman dengannya secara hakiki, dengan huruf (lafadz) dan maknanya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Termasuk dari keimanan kepada Allah ‘azza wa jalla dan kitab-kitab-Nya adalah beriman bahwa al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) yang diturunkan dari Allah ‘azza wa jalla, bukan makhluk. Dari Allah ‘azza wa jalla al-Qur’an itu berasal dan kepada-Nya pula ia akan kembali. Allah ‘azza wa jalla berfirman (berkata) dengannya secara hakiki. Al-Qur’an yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) secara hakiki, bukan perkataan selain-Nya. Tidak boleh menyatakan bahwa al-Qur’an hikayat tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) atau ungkapan tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla).
Bahkan, jika al-Qur’an itu dibaca oleh manusia atau ditulis dalam
mushaf-mushaf, tidaklah mengeluarkan dia dari kedudukannya sebagai
kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) yang sebenarnya.
Sebab, sebuah perkataan disandarkan hanya kepada yang pertama kali
mengatakannya, tidak kepada pihak (kedua, -pen.) yang berstatus sebagai
penyampainya. Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), huruf (lafadz) dan maknanya. Kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) itu bukanlah huruf (lafadz) semata tanpa makna, dan bukan pula makna semata tanpa huruf (lafadz).” (al-Aqidah al-Wasithiyah)
Prinsip Ahlus Sunnah tersebut sungguh berbeda dengan prinsip kelompok sesat Mu’tazilah[3] dan Jahmiyah[4] yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Berawal dari niatan ingin menyucikan Allah ‘azza wa jalla
dari sifat-sifat makhluk-Nya—dengan mengandalkan akal tanpa bimbingan
ilmu—akhirnya terjatuh dalam sikap yang lebih ekstrem, yaitu ta’thil
(meniadakan) sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla secara total, termasuk sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla. Dengan itu, mereka menetapkan bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak mempunyai sifat berbicara alias bisu. Mahasuci Allah ‘azza wa jalla
dari pernyataan keji mereka itu. Karenanya, para ulama Ahlus Sunnah
menyatakan, “Barang siapa mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk maka
dia kafir.”
Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan sifat kalam
(berbicara) untuk diri-Nya yang Mahamulia sebagaimana yang terdapat
dalam banyak ayat dari al-Qur’an, demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak haditsnya. Tentunya, sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla
tersebut sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, tidak serupa sama
sekali dengan sifat makhluk-Nya. Adapun al-Qur’an, dengan tegas Allah ‘azza wa jalla menyatakan bahwa ia adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) sebagaimana dalam firman-Nya,
“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta
perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya sempat mendengar kalamullah (Al-Qur’an), kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (at-Taubah: 6)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah
berkata, “Padanya terdapat hujah (argumen) yang gamblang bagi mazhab
Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menyatakan bahwa al-Qur’an kalamullah
bukan makhluk, karena Dia ‘azza wa jalla yang berfirman dengannya (al-Qur’an). Allah ‘azza wa jalla
menyandarkan (mengidhafahkan) al-Qur’an kepada diri-Nya sebagai bentuk
penyandaran sifat kepada Dzat yang disifati (yakni Allah ‘azza wa jalla).
Padanya pula terdapat bukti kebatilan mazhab Mu’tazilah dan yang
mengikuti mereka yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Betapa
banyak dalil yang menunjukkan batilnya pernyataan tersebut, namun bukan
di sini tempat untuk membahasnya.” (Taisir al-Karimirrahman 1/329)
Kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang membantah syubhat-syubhat
Mu’tazilah dan Jahmiyah cukup banyak, terkhusus dalam permasalahan
al-Qur’an. Di antaranya; ar-Rad ‘ala az-Zanadiqah wal Jahmiyah karya al- Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, ar-Rad ‘ala al-Jahmiyah karya al-Imam Muhammad bin Ishaq bin Mandah rahimahullah, ar-Rad ‘ala al-Jahmiyah karya al-Imam ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi rahimahullah, al-Haidah wa al-I’tidzar firraddi ‘ala Man Qala Bikhalqi al-Qur’an karya al-Imam Abdul Aziz bin Yahya al-Kinani rahimahullah, dan yang lainnya.
Prinsip Ahlus Sunnah tersebut juga sangat berbeda dengan prinsip kelompok sesat Kullabiyah[5] yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah hikayat tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), atau kelompok sesat Asya’irah[6] yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah ungkapan tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla).[7]
Dasar mereka adalah bahwa sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla adalah qadim (azali), sama dengan sifat ilmu (mengetahui) bagi Allah ‘azza wa jalla, sehingga tidak berbilang karena adanya suatu kehendak atau kejadian. Maka dari itu, al-Qur’an adalah kalam nafsi bagi Allah ‘azza wa jalla bukan kalam hakiki. Maksudnya, Allah ‘azza wa jalla berbicara dalam jiwanya (tidak terdengar), lantas menjadikan Malaikat Jibril ‘alaihissallam paham tentangnya, kemudian Malaikat Jibril–lah yang mengungkapkannya dalam bentuk firman yang mempunyai huruf dan lafadz (suara). Jadi, maknanya berasal dari Allah ‘azza wa jalla sedangkan lafadznya dari Malaikat Jibril ‘alaihissallam. (Ajwibah Mufidah ‘an As’ilah ‘Adidah, asy-Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hlm. 26 dan Syarh al- Aqidah ath-Thahawiyah karya asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh hlm. 113)
Menurut asy-Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah,
prinsip Asya’irah tentang al-Qur’an ini sama dengan prinsip orang
Kristen tentang Isa al-Masih. Menurut orang Kristen, Isa al-Masih
merupakan gabungan dari Dzat Allah ‘azza wa jalla dan Maryam (makhluk). Demikian pula menurut Asya’irah, al-Qur’an merupakan gabungan dari Dzat Allah ‘azza wa jalla dan makhluk. Yakni maknanya dari Allah ‘azza wa jalla (kalam nafsi), sedangkan huruf dan lafadznya dari Malaikat Jibril ‘alaihissallam atau Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 98)
Para ulama Ahlus Sunnah dalam kitab-kitab mereka menjelaskan bahwa sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla “qadimun nau’ wa haditsul ahad”. Qadimun nau’ maksudnya, sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla itu qadim (azali), selalu ada dan melekat pada Dzat Allah ‘azza wa jalla. Haditsul ahad maksudnya, Allah ‘azza wa jalla Maha Berbicara kapan saja Dia ‘azza wa jalla
berkendak untuk berbicara, sesuai dengan kemuliaan dan kebesaran-Nya.
Dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah menunjukkan bahwa Allah ‘azza wa jalla
berbicara secara hakiki, dengan huruf (lafadz) dan maknanya. Tidak
dengan huruf (lafadz)-nya semata tanpa maknanya sebagaimana klaim
Mu’tazilah dan Jahmiyah, dan tidak pula dengan maknanya semata tanpa
huruf (lafadz) sebagaimana klaim Kullabiyah dan Asya’irah. Dengan
itulah, pemahaman tentang sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla menjadi benar, dan dengan itu pula pemahaman tentang hakikat al-Qur’an menjadi lurus.[8]
Kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang membantah secara detail
kelompok sesat Asya’irah dan yang semisalnya cukup banyak, di antaranya Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (di beberapa tempat darinya), kitab at-Tis’iniyah karya
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang disebutkan padanya sembilan puluh
sisi bantahan terhadap syubhat-syubhat mereka, karena itu disebut dengan
at-Tis’iniyah, karya-karya al-Imam Ibnul Qayyim terutama kitab Mukhtashar ash-Shawaiq al-Mursalah, dan selainnya dari kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang mulia.
Demikianlah yang dijelaskan oleh asy-Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah dalam Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah (hlm. 113), dan asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullah dalam Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah (hlm. 119) dan Syarh al-Aqidah al- Wasithiyah (1/354).
Ya Allah, jadikanlah al-Qur’an itu sebagai penyejuk hati kami, cahaya
jiwa kami, pelipur lara kesedihan kami, dan penyirna kegundahan kami.
[1]
Belakangan ini muncul statemen sesat bahwa al-Qur’an adalah produk
budaya, dalam hal ini budaya masyarakat Arab yang al-Qur’an turun di
tengah-tengah mereka. Statemen ini datang dari antek-antek para
orientalis barat, semisal Nasr Hamid Abu Zaid asal Mesir. Ujungnya,
al-Qur’an bukan kitab suci yang sakral sehingga layak dikritisi secara
teks apalagi maknanya karena ia hanyalah produk budaya. Betapa bahayanya
statemen tersebut. Fakta membuktikan bahwa al-Qur’an adalah wahyu ilahi
yang justru banyak membongkar berbagai kesesatan budaya Arab ketika
itu, bahkan memaparkan jalan-jalan kebenaran yang sebelumnya tidak
mereka ketahui. Lebih dari itu, al-Qur’an meluruskan makna kosa kata
Arab yang lekat dengan budaya mereka kepada makna yang islami. Misalnya
kosa kata ikhwah, dalam budaya Arab ketika itu berkonotasi pada
kekuatan dan fanatik kesukuan, lantas diubah maknanya dengan
memperkenalkan gagasan persaudaraan yang dibangun di atas dasar iman,
yang lebih tinggi dari sebatas hubungan darah dan kesukuan.
[2] Lihat Tafsir Ibnu Abbas (2/135), Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (15/223—224), Fatawa wa Rasail Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh (1/225), dan Adhwa’ul Bayan karya asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, tafsir QS. Fushshilat: 2 dan QS. al-Qadr: 1
[3] Pengikut Abu Hudzaifah Washil bin Atha’ al-Ghazzal al-Bashri, mantan murid al-Imam Hasan al-Bashri yang
menyimpang dari kebenaran.
[4]
Pengikut Jahm bin Shafwan at-Tirmidzi yang merupakan murid dari Ja’ad
bin Dirham. Ja’ad bin Dirham sendiri tergolong orang pertama dari umat
ini yang meniadakan sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla dan mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk.
[5] Pengikut Abu Muhammad Abdullah bin Sa’id bin Kullab al-Bashri.
[6]
Pengikut Abul Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari yang berpegang dengan
prinsip-prinsip beliau pada fase ketika bersama Kullabiyah. Adapun
beliau sendiri, telah menyatakan rujuk dari berbagai penyimpangan
tersebut dan berupaya berpijak di atas prinsip Ahlus Sunnah (fase
ketiga), walaupun masih ada beberapa hal yang terluput dari beliau.
Lihat Majalah asy-Syari’ah edisi Mengupas Paham Asy’ariyah.
[7] Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (12/160—161).
[8] Lihat at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘ala Matni al-Aqidah ath-Thahawiyah karya asy-Syaikh Shalih al-Fauzan (hlm. 66—71), Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah karya asy-Syaikh Muhammad Khalil al-Harras (hlm. 181—187), Syarh Lum’atul I’tiqad karya asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (hlm. 19—20), dll.