Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc
Terjatuhlah manusia dalam kesesatan. Sungguh, tidak sedikit manusia mendustakan firman Allah ‘azza wa jalla
secara keseluruhan atau parsial, bukan hanya dari kalangan non-Islam,
kelompok-kelompok yang menisbatkan dirinya kepada Islam pun banyak di
antara mereka terjerumus pada penyimpangan-penyimpangan dalam masalah
iman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla.
Ahlul Kitab, Yahudi, dan Nasrani
Mereka adalah kaum yang mendustakan kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla
yang ada di tengah mereka. Taurat dan Injil mereka ubah, mereka
tambahi, mereka kurangi dan mereka sembunyikan al-haq atau mereka campur
antara yang haq dan yang batil.
Demikian perlakuan ahlul kitab terhadap Taurat dan Injil sebagaimana
telah kita baca ayat-ayat al-Qur’an yang mengabarkan sifat mereka yang
sangat tercela, menodai kehormatan Taurat dan Injil dengan mengubah
keduanya.
Adapun terhadap al-Qur’an, mereka mendustakannya walaupun sesungguhnya mereka dalam keadaan yakin akan kebenaran a-Qur’an.
Dahulu, sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ahlu kitab selalu menyebut-nyebut kedatangan rasul yang terakhir,
bahkan mereka mengatakan itu di hadapan Aus dan Khazraj. Namun, setelah datang kepada mereka al-Qur’an, mereka kafir sebagaimana Allah ‘azza wa jalla kabarkan dalam firman-Nya,
“Dan setelah datang kepada mereka al-Qur’an dari Allah ‘azza wa jalla yang
membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa
memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang
kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui,
mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang
yangingkar itu.” (al-Baqarah: 89)
Tarekat Tijaniyyah
Tijaniyyah adalah salah satu tarekat sufi yang dinisbatkan kepada
pendirinya; Ahmad al-Tijani yang dilahirkan tahun 1150 H (1737 M) di
salah satu perkampungan di Aljazair. Tarekat Tijaniyyah sebagai salah
satu dari ratusan tarekat sufi sesungguhnya memiliki penyimpangan baik
dalam masalah, akidah, ibadah, maupun muamalah. Di antaranya
penyimpangan dalam keyakinan mereka terhadap al-Qur’an.
Tijaniyah meyakini bahwa di antara zikir-zikir atau wirid-wirid
mereka lebih utama dari al-Qur’an. Tijaniyah memiliki shalawat khusus
untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka sebut sebagai shalawat Fatih.
Shalawat Fatih cukup populer pula diamalkan di sebagian kalangan di tanah air. Lafadz shalawat ini adalah sbb:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا
اُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِالْحَقِّ بِالْحَقِّ
وَالْهَادِى اِلى صِرَاطِك الْمُسْتَقِيْم وَعَلى الِهِ حَقَّ قَدْرِهِ
وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.
Ya Allah, limpahkanlah rahmat, keselamatan, dan keberkahan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
yang membuka segala sesuatu yang tertutup, yang menutup sesuatu yang
terdahulu, yang menolong kebenaran dengan kebenaran, yang memberikan
petunjuk pada jalan-Mu yang lurus. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan rahmat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya dengan kekuasaan dan ukuran Allah Yang Mahaagung
Sang pendiri, Ahmad at-Tijani berkata, “Barang siapa membaca shalawat Fatih sekali lebih afdal daripada mengkhatamkan al-Qur’an 6.000 kali.”
Dengan nama Allah, adakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengajarkan shalawat ini? Dari mana kalian mengetahui shalawat bid’ah
ini memiliki keutamaan seperti seorang khatam al-Qur’an 6.000 kali?
Ucapan at-Tijani tidak lain adalah kedustaan, mensyariatkan apa yang
tidak rasul syariatkan.
Coba bandingkan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pernah mengabarkan bahwa surat al-Ikhlas setara dengan sepertiga al-Qur’an. Beliau bersabda,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
“Demi Dzat Yang Jiwaku di Tangan-Nya, sungguh surat al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga al-Qur’an.” (HR. al-Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu no. 5014)
Surat al-Ikhlas adalah kalam Allah ‘azza wa jalla, dan dalam hadits di atas beliau bersumpah bahwa al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga al-Qur’an.
Bandingkan sabda Rasulullah dengan ucapan mereka bahwa shalawat Fatih
senilai dengan 6.000 khatam al-Qur’an. Luar biasa! Betapa “hebat” sang
pendiri tarekat! Dengan mudah membuat kalimat-kalimat yang lebih besar
pahalanya dibanding surat al-Ikhlas yang merupakan kalam Allah ‘azza wa jalla, yang nabi saja tidak mengucapkannya dan tidak diamalkan para sahabat nabi.
Betapa beraninya Ahmad at-Tijani berbicara perkara gaib, berbicara tentang pahala di sisi Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu dan sandaran.
Demikianlah ketika seorang sudah berkeyakinan adanya bid’ah hasanah,
setiap orang bebas membuat dan berkreasi dalam syariat ini semaunya yang
penting baik menurut akalnya, otaknya, kelompoknya, akibatnya: Islam
akan berubah! Allahul musta’an.
Kaum Sufi Ekstrem
Orang-orang sufi ekstrem adalah model kesekian dari manusia-manusia yang mengingkari kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla. Sisi penyimpangan mereka, mereka mengaku memiliki ilmu yang dikatakan dengan “ilmu Laduni”.
Ilmu Laduni di kalangan sufi adalah sumber syariat. Ilmu Laduni
menurut mereka adalah wahyu yang mereka dapatkan langsung dari Allah ‘azza wa jalla. Dengan dalih ilmu laduni itulah kaum sufi dengan seenaknya membuat syariat, dan mereka sandarkan kepada Allah ‘azza wa jalla, yakni mereka menerima langsung dari Allah ‘azza wa jalla.
Sungguh para sahabat, bersepakat bahwa wahyu Allah ‘azza wa jalla telah terputus dengan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, wahyu terputus dan Islam telah sempurna.
Kaum sufi ekstrem tidak menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai
satu-satunya sumber pengambilan ilmu, sumber akidah. Mereka juga
menjadikan ilmu Laduni sebagai sumber syariat, demikian pula
mimpi-mimpi. Bahkan, menurut mereka seorang bisa bebas dari ikatan
syariat, tidak lagi terikat dengan al-Kitab dan as-Sunnah.
Syiah Rafidhah
Penyimpangan Syiah Rafidhah dari jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
demikian banyak, sehingga siapa saja yang mau melihat penyimpangan
Syiah Rafidhah dengan timbangan al-Qur’an dan as-Sunnah akan tampak
dengan terang bahwa mereka bukanlah bagian dari kaum muslimin.
Ya, Syiah Rafidhah pada hakikatnya adalah agama tersendiri yang dibangun di atas kekufuran kepada Allah ‘azza wa jalla.
Mereka telah menghancurkan segala sendi-sendi Islam termasuk dalam
masalah iman kepada kitab, mereka telah menyimpang dari jalan kaum
muslimin.
Di antara penyimpangan tersebut: Mereka meyakini bahwa al-Qur’an yang
berada di tengah kaum muslimin, yang dibaca dan dihafalkan selama ini,
bukan al-Qur’an yang Allah ‘azza wa jalla turunkan, tidak sesuai dengan aslinya dan telah diubah oleh para sahabat.
Al-Qur’an yang sesungguhnya akan dikeluarkan nanti di akhir zaman,
dan saat ini dibawa Imam Mahdi mereka yang bersembunyi di dalam Sirdab
Samura’.
Dengan lancangnya mereka meyakini bahwa para sahabat telah mengubah
al-Qur’an. Al-Qur’an yang ada sekarang ini bukan lagi wahyu Allah ‘azza wa jalla
yang diturunkan, namun ayat-ayat yang telah didustakan, ditambah dan
dikurangi. Di sisi mereka al-Qur’an tidak bisa dijadikan sebagai hujah
dan pegangan, al-Qur’an bukan lagi kitab hidayah, mereka pun dengan
seenaknya mempermainkan al-Qur’an.
Menurut mereka, al-Qur’an yang benar adalah al-Qur’an Fathimah yang disimpan oleh Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu,
padahal sahabat Ali sendiri tidak pernah mengatakan beliau
menyimpannya. Keyakinan ini bukan sekadar tuduhan kepada Syiah Rafidhah.
Namun keyakinan ini tertulis jelas dalam kitab-kitab induk syiah
Rafidhah.
Dalam kitab al-Kafi, Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini meriwayatkan bahwasanya Abu Abdullah Ja’far ash-Shadiq berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad (ada) 17.000 ayat.” (al-Kafi [2/634])
Dari Abu Abdillah ia berkata, “… Sesungguhnya di sisi kami ada
mushaf Fathimah ‘alaihassalam. Mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah
itu. Abu Bashir berkata, ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah)
berkata, ‘Mushaf tiga kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf
kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an
kalian…’.” ( al-Kafi [1/239—240] dinukil dari kitab asy-Syi’ah wal-Qur’an, hlm. 31—32, karya Ihsan Ilahi Zhahir)
Bahkan orang yang mereka anggap sebagai ahli hadits, Husain bin
Muhammad at-Taqi an-Nuri ath-Thabrisi menyempurnakan kekafiran kaum
syiah Rafidhah dengan menulis sebuah kitab berjudul Fashlul Khithab fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab.
Kitab yang dikarangnya pada tahun 1292 H mengumpulkan sekian banyak
riwayat dari para imam mereka yang maksum (menurut mereka), yang
menetapkan bahwa al-Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan
penyimpangan.
Betapa kafir dan dungunya mereka, sungguh seorang yang masih memiliki
sedikit akal, akan menyimpulkan bahwa apa yang mereka ucapkan ini
sesungguhnya justru celaan dan tikaman kepada Ali bin Abi Thalib, ahlul
bait, dan bahkan celaan kepada Allah ‘azza wa jalla.
Celaan kepada Ali karena secara langsung atau tidak langsung mereka
telah menuduh Ali telah berkhianat kepada umat dengan menyembunyikan
al-Qur’an yang benar.
Wahai Syiah Rafidhah, bukankah Ali bin Abi Thalib ketika itu menjadi
khalifah? Kenapa Ali takut kepada manusia untuk menampakkan al-haq?
Demikian pula al-Hasan, al-Husain tidak menampakkan al-Qur’an yang benar
menurut versi kalian?
Kalian juga telah mencela Allah ‘azza wa jalla karena makna ucapan kalian bahwa al- Qur’an yang ada sekarang bukan wahyu yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Seakan-akan kalian berkata bahwa Allah berdusta, tidak memenuhi
janjinya untuk menjaga al- Qur’an, lemah tidak bisa menghadapi manusia
yang mengubah-ubah al-Qur’an, dan membiarkan manusia selama 1.435 tahun
dalam kesesatan tidak mengerti kitab mereka. Wahai Syiah Rafidhah,
tidakkah kalian berakal?
Wahai Rafidhah, di mana al-Qur’an Fathimah yang kalian sangkakan itu?
Empat belas abad berlalu disembunyikan oleh ahlul bait? Bukankah mereka
maksum (terbebas dari dosa) menurut kalian? Apakah menyembunyikan
al-Qur’an bukan kesalahan mereka yang sangat besar? Menyembunyikan
al-Qur’an artinya membiarkan manusia dalam kesesatan, tidak punya
pegangan hidup.
Mana Imam Mahdi kalian yang bersembunyi di Sirdab, apakah ia tidak
berani keluar untuk segera menyampaikan al-Qur’an Fathimah itu setelah
berabadabad manusia dalam ketidaktahuan terhadap kitab Rabb mereka?
Bukankah sekarang kalian sudah punya Negara Iran dengan nuklirnya yang
bisa melindungi al-Mahdi kalian? Sungguh, ini celaan kalian kepada
sahabat Ali bin Abi Thalib, al-Hasan, al-Husain, serta ahlul bait!
Bahkan celaan kepada Allah ‘azza wa jalla.
Mereka, orang-orang Syiah juga tersesat dalam metode penafsiran
al-Qur’an Mereka tafsirkan seenak mereka dengan penafsiran Bathiniyyah.
Demikian beberapa kelompok yang tersesat dalam masalah iman kepada kitab. Semoga Allah ‘azza wa jalla tampakkan kepada kita yang benar sebagai perkara yang benar dan Allah ‘azza wa jalla beri kita kemampuan untuk mengikutinya, dan semoga Allah ‘azza wa jalla tampakkan kepada kita yang batil sebagai perkara yang batil dan Allah ‘azza wa jalla mudahkan kita meninggalkannya. Amin.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ